Facebook yang populer saat ini dan menumbangkan dua situs jejaring sosial, Friendster dan MySpace, telah menimbulkan paradigma baru. Facebook yang sebenarnya punya peraturan ketat namun dengan antarmuka yang lebih bebas pun tetap saja bisa kecolongan dengan ulah-ulah nakal para penggunanya. Banyak pengguna Facebook akan merasa risih jika orangtuanya hadir dalam situs jejaring sosial itu. Nah, ketika pertanyaan tersebut ditanyakan kepada saya, jawabannya iya. Mengapa? Orang tua pada dasarnya memandu kita dan mendidik kita ke jalan yang benar. Hal itu berlaku di jaringan dunia maya seperti Facebook. Secara tidak langsung, kita akan “Ah, ada ortu gue, ga jadi dah, tar diomelin”, dan seperti itu dan seperti itu. Secara psikis, kita pasti punya sesuatu yang ditakutkan dengan nyata (maksudnya, beberapa orang pasti ada yang tidak kuat agamanya dan kesadaran akan Tuhan ada yang kurang). Tentunya hal itu akan mendukung kita untuk menjadi manusia yang baik, di kehidupan nyata dan maya (bukan akhirat, kita gak ngomongin agama Bisa diibaratkan begini, kebanyakan orang Indonesia pun ada yang memperbaharui statusnya tentang apa yang dilakukan dia atau sedang ada dimana. Malah terkadang status-status facebooknya menjatuhkan harga diri nya sendiri. Nah, para orang tua bisa memanfaatkan celah ini untuk mengawasi anaknya sehingga para orang tua bisa meminta tanggung jawab dan konsekuensi dari apa yang dilakukan sang anak, baik positif ataupun negatif.
Yah, memang tidak ada sisi negatif yang berarti dari penambahan orang tua sebagai jaringan teman di situs jejaring sosial, sehingga tindakan ini sangat sangat disarankan. Semua itu tergantung dari seberapa gaul Orang Tua anda untuk ikut-ikutan tren atau memang ingin mengawasi saja dan anda sendiri. an kita sebagai anak, bisa juga mengontrol balik apa yang saja yang dilakukan orangtua kita melalui facebook, karena orangtua saya pun sudah mempunyai account facebook, hahahah..