Hai.. pertama-tama saya mau memperkenalkan diri dulu. Nama saya Putri Meidina, mahasiswi Universitas Gunadarma angkatan 2009 jurusan Sistem Informasi. Saya kelahiran Jakarta 4 Mei 1991, saya keturunan berdarah Minang, Sumatera barat. Tapi kalo pulang kampung saya tidak pernah pulang ke Bukit Tinggi hahaha.. kenapa?? karena keluarga saya yang dari mama tinggal di Aceh dan kalau dari Papa tinggal di Medan, jadi kalau pulang kampung ya kedua daerah itu hehehe..
Okay, saya akan mulai menyampaikan opini saya tentang kebudayaan di Indonesia.
Waduh, kalau membicarakan tentang kebudayaan Indonesia susah juga ya, masalahnya banyak banget. Itulah makanya betapa harusnya kita bersyukur bisa hidup sebagai warga negara Indonesia. Hidup ditengah keberagaman budaya, suku, agama, ras. Belum lagi indahnya Nusantara kita ini sebagai jamrud khatulistiwa. Terkadang saya suka sedih banyak rakyat Indonesia hanya bisa memicingkan mata, sambil menggerutu dengan keadaan negara kita sekarang tanpa berbuat apa-apa. Padahal mereka pun belum bisa berbuat apa-apa untuk menjadi negara kita lebih baik. Setidaknya jangan lah hanya mencaci maki tapi lebih baik diam dan berbuat sesuatu. Apalagi tentang aksi demo besar-besaran kemarin yang diikuti oleh beberapa perkumpulan mahasiswa. Memang si negara demokrasi tapi tetep aja malah demo-demo seperti itu terkadang terkesan useless. Wah saya malah ngelantur, oke back to main topic.
Untuk membicarakan opini tentang kebudayaan Indonesia ruang lingkup nya luas banget makanya disini saya mau memberikan pendapat saya tentang beberapa kebudayaan kita yang telah ‘diaku-akui’ oleh negara tetangga. Ya siapa si yang ga tau masalah ini, apalagi kita disini sebagai korbannya. Jadi sudah banyak yang sudah diaku-akui oleh Malaysia sebagai kebudayaannya Malaysia, contohnya kasus pada iklan visit Malaysia yang malah menampilkan kebudayaan-kebudayaan kita, lalu diaku-akuinya tari pendet, batik, keris, wayang, reog, angklung, kain ulos, lagu rasa sayang sayange, tari piring, rendang (loh? kok bisa ya? hahaha), dan masih banyak lagi. Oh iya yang paling bikin kesel karena kita saling berseteru nah ada pihak-pihak yang tak bertanggung jawab merubah lirik-lirik dari lagu kebangsaan kita, yaitu Lagu Indonesia Raya. Disitu kata-kata dari liriknya diubah-ubah menjadi kata-kata yang tak sopan, bener-bener bikin kesel. Pertama dalam menanggapi kasus ini kita sebagai korban otomatis akan geram, kesel, marah dsb. Yailah marah, kebudayaan kita di ambil, ya nggak? Tapi kita harus bertanya juga, kenapa itu bisa terjadi, dan terjadi berkali-kali. Kemana para pemerintah, menteri kebudayaan kita? Malu banget, bisa terulang kejadian yang sama oleh pelaku yang sama pula.
Dalam menyikapi hal ini ya selain ngomel-ngomel (nggak ngaruh juga ya? hehehe), musti koreksi diri juga kita. Nah disini la peran pemerintah. Kesalahan kita adalah tidak mendaftarkan kebudayaan kita menjadi hak paten. Nah karena sudah banyak yang protes akhirnya menteri kebudayaan langsung bertindak mendaftarkan kebudayaan-kebudayann kita kepada UNESCO, malah sempet Pak SBY mengajak rakyat Indonesia memakai batik pada tanggal 2 Oktober 2009 karena bersamaan dengan pengumuman dari UNESCO yang ditetapkannya bahwa batik adalah warisan budaya asli Indonesia, cihuy.. senangnyaaaaa.. Malah sekarang untuk beberapa instansi, kalau hari jumat pada mengenakan batik lho.. Bahkan Adidas pun mengakui batik ini milik Indonesia, ihh bangga nyaaa..
Lebih seneng lagi ternyata pemuda-pemudi Indonesia memang sangat aware tentang masalah ini, pada cinta banget deh dengan Indonesia, nah saking cintanya para Hacker ikut-ikutan berpartisipasi, nah bentuk partisipasinya yaitu nge-hack situs-situs malaysia bahkan sampai 100 situs, waw.. hahaha Pada hari kemerdekaan malaysia pada tanggal 31 agustus 2009 para hacker kembali nge-hack situs-situs malaysia. Walaupun agak terkesan gimana gitu ya, tapi disini setidaknya ada kepuasan tersendiri hahaha.. Nah sebagai pemuda-pemudi Indonesia baiknya kita ikut melestarikannya, terkesan sangat klise ya kata-kata nya tapi ya memang itu la kenyataannya, itu yang musti kita lakukan. Misalnya nggak malu untuk memakai batik, apalagi sekarang batik bermacem-macem motif dan modelnya jadi ga ‘old school’ deh kalo kita memakainya. Jangan malu juga menggunakan berbagai produk Indonesia. Jangan sok kebarat-baratan deh. Nah ini dia, jangan nambahin pemasukkan devisa mereka, karena saya dengar berita kalau negara kita ini menjadi pemasok kedua terbesar ke Malaysia setalah Singapura. Jumlah total kunjungan wisatawan Indonesia ke negeri Jiran itu mencapai hampir 2,5 juta orang, selama 2009 lalu. Mereka tak hanya untuk rekreasi tapi juga pemeriksaan kesehatan dll. Waduh kalo kita jalan-jalan keliling Indonesia aja sudah cukup sebenarnya, negara kita kan sangat luas belum lagi kebudayaannya beraneka ragam dan pemandangan karya Ilahi yang menakjubkan. So, mending keliling Indonesia daripada nambahin pemasukkan devisa mereka. Ya kan? Kalau masalah kesehatan, negara kita ngga kalah hebat kok dokter-dokternya soalnya saya dengar dari papa saya, dulu malahan mereka itu banyak belajar dari kita, jadi guru-guru kita dibawa kesana malah, nah kan kok sekarang jadi terbalik gini ya?
I LOVE INDONESIA
Ya sudah sekian dari saya, maap jika ada salah-salah kata, maklum penulis amatir hehehe..




Facebook yang populer saat ini dan menumbangkan dua situs jejaring sosial, Friendster dan MySpace, telah menimbulkan paradigma baru. Facebook yang sebenarnya punya peraturan ketat namun dengan antarmuka yang lebih bebas pun tetap saja bisa kecolongan dengan ulah-ulah nakal para penggunanya. Banyak pengguna Facebook akan merasa risih jika orangtuanya hadir dalam situs jejaring sosial itu. Nah, ketika pertanyaan tersebut ditanyakan kepada saya, jawabannya iya. Mengapa? Orang tua pada dasarnya memandu kita dan mendidik kita ke jalan yang benar. Hal itu berlaku di jaringan dunia maya seperti Facebook. Secara tidak langsung, kita akan “Ah, ada ortu gue, ga jadi dah, tar diomelin”, dan seperti itu dan seperti itu. Secara psikis, kita pasti punya sesuatu yang ditakutkan dengan nyata (maksudnya, beberapa orang pasti ada yang tidak kuat agamanya dan kesadaran akan Tuhan ada yang kurang). Tentunya hal itu akan mendukung kita untuk menjadi manusia yang baik, di kehidupan nyata dan maya (bukan akhirat, kita gak ngomongin agama